Cinta Terpaksa


Salah satu rahasia abadi tentang kebahagiaan hidup adalah mengerjakan apa yang dicintai. Salah satu ciri yang didapat pada kehidupan orang-orang sukses dalam sejarah adalah bahwa mereka semua senang dengan apa yang mereka lakukan dalam hidup, mereka bergairah dengan pekerjaan mereka. Thomas Edison contohnya, pria yang mencatatkan 1.093 hak paten selama hidupnya, di akhir hidupnya mengungkapkan tentang kecemerlangan kariernya, “Saya tidak pernah melakukan pekerjaan di dalam hidup saya, semuanya adalah kesenangan..”

Permasalahannya, kita tidak selalu mampu atau berkesempatan untuk mengerjakan apa-apa yang sebenarnya kita cintai. Hal ini terjadi karena status kita sebagai karyawan misalnya, di mana kita selalu dituntut untuk mengerjakan sesuatu yang bisa jadi sesungguhnya sangat tidak kita sukai. Menghadapi hal ini, sebenarnya kita punya pilihan ekstrim.., yaitu meninggalkan kondisi atau situasi serta pekerjaan tersebut. Upsss...! itu artinya kita memperbesar peluang kita untuk dipecat..!

Kalau memang hal itu tidak mungkin kita pilih (karena kita belum punya pilihan lain..), maka tidak bisa tidak, kita harus menghadapi pekerjaan itu.. dan supaya tidak terjadi tekanan batin dalam diri kita, maka kita harus belajar untuk mencintai pekerjaan kita itu. Dan ketika kita mencoba untuk melakukan hal itu, kita akan menemukan sebuah tantangan intelektual dan kegembiraan karena tidak terjebak oleh sesuatu yang di luar kendali kita.

Pada akhirnya, ketika kita mencintai pekerjaan, kita akan menemukan bahwa kita tidak akan pernah harus bekerja lagi di dalam hidup. Pekerjaan kita akan dijalankan dan waktu berlalu secepat ia datang.

Dan.. kalau kita begitu bersusah payah, sehingga begitu menguras energi dan pikiran, untuk mencoba mencintai pekerjaan kita, ada baiknya kita mendengar nasihat seorang pebisnis sukses, Richard Branson, sebagai berikut:

“Apabila Anda masih harus bekerja untuk seorang atasan dalam bidang yang tidak Anda sukai, jangan mengeluh. Berpikir secara positif dan jalani saja kewajiban Anda. Tetap bekerja keras untuk mendapatkan upah Anda. Nikmati hubungan dengan orang-orang yang datang kepada Anda karena pekerjaan Anda. Dan apabila Anda tetap tidak bahagia, buat sasaran untuk memisahkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan Anda..

Selamat berjuang saudaraku...

Senin, 24 Agustus 2009


Menghidupkan Kehidupan

Ketika Anda dilahirkan, Anda menangis sementara dunia bergembira. Jalanilah hidup sebaik mungkin agar ketika Anda meninggal, dunia menangis sementara Anda bergembira.

Kalimat di atas beberapa kali saya baca di antara buku-buku yang sempat saya baca. Pada awalnya tidak terlalu saya anggap istimewa. Tapi semakin hari, semakin saya menemukan makna dari ungkapan tersebut. Lebih-lebih saat ini kita berada di tengah masyarakat yang hidup dengan melupakan kehidupan.

Kita sering melihat ada orang yang demi memenuhi keinginannya sampai-sampai menghalalkan berbagai cara. Ada orang yang bekerja keras mengumpulkan harta benda dengan alasan demi keluarga, dan ketika hartanya berlimpah ruah, anaknya jadi korban narkoba. Ada orangtua yang bertindak keras pada anak-anaknya dengan alasan kasih sayang, tapi anaknya merasa tersiksa. Ada orang yang begitu terkenal dan jadi pembicaraan orang, tapi keadaan keluarganya kacau balau. Ada orang yang dengan mudahnya mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia, tapi kesulitan menyebrang jalan untuk bertemu dengan tetangganya. Ada orang yang dengan mudahnya bertemu dengan orang-orang penting, tapi kesulitan untuk menepati janji kepada anak-anaknya untuk pergi berenang. Ada orang yang memiliki HP, e-mail, faksimile sehingga tidak pernah kesulitan dalam berkomunikasi, tapi tidak pernah bersentuhan dengan kemanusiaannya.
Seperti itukah arti kehidupan...?

Sejenak, mari kita bertanya pada diri sendiri: siapa sajakah yang akan menangis ketika kita meningal? Berapa banyakkah orang yang pernah kita sentuh dan merasakan kemanfaatan atas keberadaan kita selama kita hidup di planet ini? Warisan apakah yang akan kita tinggalkan setelah kita menghembuskan napas terakhir? Hal-hal baik apa sajakah yang akan dibicarakan orang tentang kita manakala kita sudah tiada?

Salah satu pelajaran dalam kehidupan adalah bahwa jika Anda tidak mengambil tindakan atas hidup, maka hidup mempunyai kebiasaan untuk mengambil tindakan atas Anda. Cobalah sejenak untuk mengingat kembali, rasanya baru kemarin kita menggunakan seragam SD, SMP dan SMA... Semuanya begitu cepat berlalu, semuanya begitu cepat berakhir... Pertanyaannya: berapa banyakkah pelajaran kehidupan bisa kita ambil dari periode kehidupan tersebut?.
Cobalah tengok seorang tua yang karena keterbatasan fisiknya, waktunya lebih banyak digunakan untuk merenung. Cobalah tanyakan padanya: hal-hal apa sajakah yang dia sesali dalam kehidupannya?. Alternatif jawabannya ada dua, pertama, dia menyesali atas hal-hal yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya, kedua, dia menyesali atas hal-hal yang tidak sempat dia lakukan sepanjang hidupnya. Pertanyaannya: kira-kira alternatif jawaban mana yang kemungkinan besar disampaikannya?.

Suatu waktu, di hari-hari terakhirnya, George Bernard Shaw ditanya di ranjang kematiannya, “Apa yang akan Anda lakukan jika Anda dapat menjalani kehidupan Anda sekali lagi?”. Ia terdiam, kemudian menjawab sambil menarik napas panjang, “Saya ingin menjadi orang yang saya inginkan namun tidak pernah saya wujudkan”.

Anda, tidak perlu menunggu usia tua untuk merenungi dan menjawab pertanyaan tersebut, Temukanlah diri Anda. Temukan panggilan hidup Anda. Ingin seperti apakah Anda menjalani kehidupan ini?. Saya percaya, kita semua memiliki talenta khusus yang menunggu untuk digunakan, menunggu untuk dimanfaatkan, demi untuk memberi makna bagi kehidupan kita masing-masing...


Kecil Tapi Berarti

Seringkali kita berpikir bahwa untuk menjalani kehidupan yang benar-benar istimewa, kita harus melakukan tindakan besar atau prestasi hebat yang akan membuat kita dikenal orang dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Ternyata... hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Justru sebaliknya, hidup yang penuh makna akan diperoleh dari serangkaian tindakan sehari-hari yang baik, yang meski terkesan sepele, tapi justru menambahkan sesuatu yang sungguh hebat bagi jalan kehidupan.
Sadarilah, setiap peristiwa yang kita hadapi setiap hari, pastilah atas skenario dari Tuhan, oleh karenanya, setiap orang yang memasuki kehidupan kita pasti memunyai satu pelajaran untuk disampaikan atau satu kisah untuk diceritakan. Atau bisa jadi, setiap orang yang pada suatu waktu Anda temui atau menghiasi hari-hari Anda, mengisyaratkan adanya suatu kesempatan pada kita untuk menunjukkan kebaikan-kebaikan kita yang menegaskan kemanusiaan kita.
Mengapa tidak kita ciptakan lebih banyak makna bagi kehidupan kita melalui hal-hal kecil yang bisa kita sampaikan pada orang-orang di sekitar kita. Saya pikir, jika hari ini kita membuat satu orang tersenyum atau kita bisa mencerahkan suasana hati orang lain, maka hari kita akan menjadi hari yang bermanfaat. Karena betapapun sangat sederhananya, kebaikan, adalah biaya yang harus kita bayar atas kesempatan yang kita peroleh untuk bisa hidup di bumi ini.
Marilah kita tantang diri kita untuk lebih kreatif dalam menunjukkan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita. Mungkin dengan menawarkan tempat duduk kita di angkutan umum kepada seseorang yang lebih membutuhkannya (hal ini sangat klise, tapi selalu saja membuat orang lain senang menerimanya...), mungkin dengan memberi ucapan “selamat pagi...”, “terima kasih dan selamat menjalankan tugas” kepada petugas pom bensin ketika selesai mengisi bensin atau petugas pintu tol ketika membayar tol. Mungkin dengan menjadi orang pertama yang memberikan salam atau sapaan kepada petugas satpam di tempat kita bekerja. Semuanya merupakan hal-hal kecil tapi merupakan hal-hal yang luar biasa untuk mengawalinya.
Suatu waktu, saya pernah diberi hadiah bingkisan yang isinya ikan asin oleh seorang alumnus pelatihan saya, saya begitu senang dan terharu atas perhatian yang diberikannya itu. Sungguh, saya tidak melihat isi dari hadiah itu, tapi saya merasakan kesungguhan dia dalam memberikan hadiah tersebut. Saya juga orang biasa, yang cenderung merasa senang kalau diberikan sesuatu, Anda juga pasti merasakan hal yang sama. Maka, senangkanlah orang-orang di sekitar Anda, dengan memberikan sesuatu, meskipun hal-hal yang kecil...

KETAKJUBAN...


Itulah kesan yang tersisa dan melekat dalam memori pikiran pasca perjalanan umrah kemarin. Meski hanya sembilan hari, tapi perjalanan tersebut sungguh membuat saya merasa memasuki sebuah dunia lain.
Sebagai seorang yang pertama kali menginjak bumi tanah suci, rasa ketakjuban itu begitu bertumpuk-tumpuk. Ketakjuban karena menyaksikan kondisi alamnya yang begitu kering dan tandus tapi tergambar kemakmuran dan kekayaan negaranya. Ketakjuban karena bertemu dan melihat begitu banyak orang dengan segala perbedaannya, warna kulit, golongan, negara, bahasa, kultur, tapi semua datang untuk satu maksud, satu tujuan. Ketakjuban karena menyaksikan dan menikmati kemegahan arsitektur bangunan masjid (baik Masjid Haram maupun Masjid Nabawi), serta keindahan interior di seluruh bagian dalam masjid-masjid itu. Ketakjuban karena melihat Jabal Tsur dan Jabal Nur, tempat-tempat yang begitu monumental karena mewarnai perjuangan awal sang Rasul. Ketakjuban ketika mendaki dan berdiri di bukit yang konon tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawwa setelah terpisah ratusan tahun, sehingga bukit itu dinakaman bukit kasih sayang (Jabal Rahmah). Ketakjuban menyaksikan kegersangan alam antara kota Makkah dan Madinah, karena terbayangkan berat dan sulitnya perjalan panjang sang Rasul dan Sahabat Abu Bakar ketika Hijrah. Ketakjuban ketika berdiri di kaki bukit Uhud, salah satu saksi bisu perjuangan berat sang Rasul membina mental para pejuangnya. Ketakjuban karena bisa berdiri di hamparan pemakam Baqee, tempat dimakamkannya keluarga serta ribuan sahabat Rasul.

Tentu saja, ketakjuban yang tak kan mampu terjelaskan adalah ketika pandangan berhadapan langsung dengan Ka’bah. Seumur hidup, sepanjang menjalankan ibadah sholat, di manapun berada, ke sanalah wajah dan raga terarahkan. Kini... sang titik fokus itu ada di hadapan mata... tak terhalang apapun. Subhanallah... (ah, tak kuasa rasanya menahan derai air mata...)
Ketika sholat terselesaikan, tapi pandangan tak bisa lepas dari titik fokus, Ka’bah yang agung.. Saat itulah, hati kecil berbisik: “Engkau beruntung... Sungguh beruntung... Seumur hidupmu wajah dan ragamu kau arahkan pada sang Ka’bah, kini kau berdiri di hadapannya... Jutaan orang begitu menginginkan peristiwa ini. Tapi belum tentu seberuntungmu..! Engkau bisa ke sini bukan semata karena hartamu..! Tapi semata-mata karena ijinNyalah... Subhanallah... Alhamdulillah...
Terima kasih Rabb... terima kasih. Jadikan aku orang yang selalu mudah menyukuri segala nikmatMu..

PANTURA


Bulan Maret ini saya kembali melakukan perjalanan panjang untuk mengisi pelatihan secara paralel, kali ini agenda saya keliling wilayah Jawa Tengah dan Yogya.
Perjalanan di mulai tanggal 9 Maret menuju Tegal. Saya berangkat dari Gambir dengan menggunakan Kereta Api Kamandanu Jakarta-Semarang. Setelah menempuh empat jam di perjalanan, sayapun sampai di stasiun Tegal. Di sana saya dijemput oleh Mas Agus dan mbak Ajeng, EO yang akan mendampingi saya di lima kota pertama.
Ini adalah kali pertama saya menginjak bumi Tegal, meskipun kota ini terkenal di Jakarta karena warung tegal-nya, tapi di kota ini sendiri tidak saya jumpai satupun warung tegal, yang ada adalah warung makan, he..he.. Kesan pertama tentang kota ini adalah kota lintasan di jalur Pantura pulau Jawa. Kesan ini begitu terasa karena sepanjang jalur lalu lintas darat utamanya dipenuhi kendaraan-kendaraan besar (truk dan bus), bahkan pada malam harinya frekuensi lalu lintas kendaraan besar ini semakin meningkat.
Saya cuma menginap semalam di kota Tegal, esoknya, setelah kelas pelatihan berakhir, rombongan kami segera pergi lagi menuju kota kedua, Pekalongan. Sebenarnya, saya ingin sekali berkeliling di kota ini untuk melihat-lihat toko batik, karena kota ini dikenal sebagai sentra Batik, sayang hal itu tidak bisa dilakukan mengingat jadwal saya di kota inipun hanya sebentar.
Kota berikutnya yang kami kunjungi adalah Kendal, sebuah kota kecil yang karena jaraknya begitu dekat dengan Semarang membuat kota ini jadi ‘tanggung’. Misalnya, di kota ini kami kesulitan untuk mencari tempat yang memadai untuk melangsungkan kelas pelatihan.
Setelah bermalam satu malam di Kendal, kamipun menuju Semarang. Di kota ini kelas pelatihannya dilaksanakan di wilayah luar kota, yaitu di Bandungan, sebuah daerah yang terletak di dataran tinggi di Unggaran, ibukota Kabupaten Semarang. Berada di Bandungan, sedikit banyak mengingatkan saya pada daerah puncak di Bogor, sama-sama tinggi, sama-sama dingin...
Kota berikutnya yang kami tuju adalah Salatiga. Ada sesuatu yang menarik perhatian saya di perjalanan menuju Salatiga ini. Karena kami memasuki wilayah Salatiga ini menjelang malam, beberapa saat sebelum memasuki kota Salatiga, mas Agus (pendamping saya) mengajak kami untuk singgah makan malam di sebuah restauran yang bernama Swalayan. Sesuai dengan namanya, di sini kami diberi keleluasaan untuk memilih dan mengambil sendiri nasi dan lauknya sesuai dengan selera kita. Tapi yang menarik bukan karena hal itu, melainkan karena persis di tengah restauran itu, ada sebuah panggung kecil dimana di atasnya duduk tiga orang lelaki menggunakan kostum yang sama (lengkap dengan dasinya) dan mereka masing-masing memegang alat musik petik yang sederhana dan memainkan lagu-lagu KERONCONG...
Wuihhh.... asyik banget... Meskipun suara dan perlengakapan mereka begitu sederhana, tapi jarang-jarang (bahkan tidak pernah ding...) saya menyaksikan live music keroncong... Sayapun menikmati sekali makan malam tersebut. Kami bahkan tidak segera beranjak pergi meski makan malam kami sudah selesai. Kami terbuai dengan lantunan Bengawan Solo... Juwita Malam... dan lagu-lagu kenangan lain...


KONGBENG

Dari Sangatta, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah Kecamatan yang terletak paling Utara dari wilayah Kutai Timur, yaitu Kecamatan Kongbeng.
Ketika saya mendapat penawaran tugas di wilayah Kaltim ini, yang pertama kali saya lakukan adalah membeli peta wilayah Kalimantan Timur, lalu saya menelusuri letak kota-kota yang akan saya kunjungi. Nah di antara sembilan kota yang akan saya datangi, hanya satu yang tidak tercantum dalam peta, yaitu Kongbeng ini. Akhirnya saya telusuri melalui search engine di internet dengan menggunakan kata kunci Kongbeng. Ternyata hasilnya minim sekali, hanya keterangan yang menyatakan bahwa Kongbeng ini adalah salah satu Kecamatan yang termasuk wilayah Kutai Timur.
Ternyata Kecamatan ini adalah hasil pemekaran dari Kecamatan Muara Wahau, itu sebabnya di peta hanya ada keterangan tentang Muara Wahau.
Untuk sampai di Kecamatan Kongbeng, diperlukan perjalanan selama kurang lebih empat jam dari Sangatta. Secara umum kondisi jalan antara Sangatta – Kongbeng bisa disebut mulus, namun di beberapa tempat terjadi amblas pada sebagian atau seluruh permukaan jalan, sehingga pada titik-titik tersebut jalannya nyaris putus, sehingga harus disambung dengan jembatan-jembatan darurat. Cukup mengerikan memang... selain karena di pinggir kiri kanannya adalah jurang, juga mengingat titik-titik itu adanya di tengah hutan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya perjalanan di waktu hujan atau malam hari...
Sesampainya di Kongbeng, kami beristirahat dan menginap di sebuah penginapan yang cukup asri, dimana dindingnya seluruhnya ditutupi kayu. Meski air di kamar mandinya berwarna kekuning-kuningan, tapi fasilitas dalam kamarnya cukup lengkap dimana ada AC dan TV dengan saluran internasional (maklum menggunakan parabola). Tapi jangan kaget... semua fasilitas itu hanya bisa digunakan malam hari saja, karena mulai dari jam 7 pagi sampai jam 17 sore listriknya padam karena mengalami pergiliran aliran (keadaan ini menjadi salah satu ciri khas dari beberapa kota di Kaltim).
Meski termasuk kota kecil (hanya ibukota Kecamatan), di sini terdapat beberapa penginapan, karena di wilayah sekitarnya terdapat selain penambangan Batubara, juga terdapat banyak perkebunan kelapa sawit, sehingga setiap harinya selalu saja ada orang yang turun gunung atau naik gunung, nah penginapan ini menjadi tempat transit bagi mereka.


Hal lain yang menjadikan daerah ini istimewa adalah karena di daerah ini ada sebuah desa yang bernama Miau Baru, yaitu sebuah desa yang masih tetap memperlakukan tradisi budaya dayak dalam kehidupan keseharian mereka, seperti berladang dan mencari ikan untuk kelangsungan hidup mereka.
Ketika rombongan kami memasuki wilayah desa ini, saya dibuat takjub, karena keadaannya jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya.
Desa ini begitu asri, dimana permukimannya sangat tertata dengan baik lengkap dengan blok-blok rumah seperti pada komplek permukiman di kota-kota besar, hanya saja jalan-jalan dan gang-gang yang memisahkan rumah-rumah itu masih terbuat dari tanah dan rumahnya berbentuk panggung. Di setiap kolong rumah tersebut tersimpan kayu-kayu yang tertata dengan rapi sebagai bahan persediaan bahan bakar keluarga mereka.
Di tengah perkampungan itu, terdapat lumbung/gudang desa, juga ada sebuah bangunan panggung yang sangat besar yang disebut rumah panjang yang berfungsi sebagai tempat pertemuan atau acara-acara di antara mereka, di sekitar rumah panjang itu terdapat beberapa patung yang menggambarkan budaya mereka, sebagian malah berbentuk tiang yang menjulang tinggi.
Ciri khas dari penduduknya antara lain adalah memanjangnya ujung telinga para perempuan (terutama yang sudah tua) lengkap dengan anting-antingnya yang menyerupai gelang besar.
Hal lain yang menarik di desa ini adalah, di seberang perkampungan ini, dibatasi oleh sebuah sungai yang cukup besar, terdapat sebuah kawasan peternakan milik warga desa ini, dimana di sana berkeliaran dengan bebas banyak sekali babi-babi hutan.








SANGATTA

Setelah singgah semalam di Bontang, perjalanan kami lanjutkan menuju kota Sangatta. Kota ini tidak terlalu jauh dari Bontang, hanya diperlukan sekitar 45 menit dari Bontang.

Sangatta adalah ibukota dari Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten ini dikenal sebagai lumbung Batubara di Kalimantan Timur, dimana di dalam tanahnya terkandung persediaan batubara sebanyak 5,35 miliar ton...!

Karena hal itu maka kehidupan (terutama sektor ekonomi) di Sangatta sangat dipengaruhi oleh keberadaan perusahaan-perusahaan pengelola batubara tersebut. Perusahaan yang paling besar adalah PT. Kaltim Prima Coal (KPC) milik keluarga Bakrie (itu sebabnya konon yang menyebabkan keluarga Bakrie menjadi orang terkaya di Indonesia).

Alhamdulillah, selama di Sangatta ini saya berkesempatan melihat langsung eksplorasi batubara pada sebuah gunung dari sebuah bukit yang namanya Bukit Pandang.

Begitu luasnya lahan eksplorasi tersebut, sehingga sejauh mata memandang yang terlihat adalah ladang eksplorasi. Kegiatan pengerukan batubara ini dilakukan selama 24 jam non stop selama bertahun-tahun, sehingga menciptakan sebuah lubang raksasa yang konon kedalamannya sudah di bawah permukaan laut.

Yang menarik lagi adalah, untuk mengangkut batubara tersebut digunakan kendaraan truck-truck raksasa, dimana diameter bannya saja bisa mencapai enam meter, sehingga kalau disandingkan dengan pickup biasa, kita seperti melihat mobil mainan saja. Hebatnya lagi, di antara para pengemudi truck raksasa tersebut adalah perempuan.

Melihat pemandangan alam yang penuh dengan kandungan batubara seperti ini, saya tidak henti-hentinya memuji karunia Allah yang telah menganugerahi bumi ini dengan bahan yang sangat bermanfaat bagi umat manusia... Subhanallahhh...

BONTANG

Setelah Samarinda, kota berikutnya yang saya tuju dalam perjalanan keliling Kaltim adalah Bontang. Sebuah kota kecil yang terletak 120 km di sebelah Utara Samarinda. Meski terbilang kota kecil, namun kota ini cukup dikenal, mengingat di wilayah kota ini terdapat dua perusahaan besar, yaitu Pupuk Kaltim (PKT) dan LNG Badak.
Di Bontang, saya menjadi tamu Grapari (Telkomsel) Bontang. Ada yang unik di Grapari ini, dimana di sini saya bertemu dengan Srikandi-srikandi Telkomsel, salah satunya adalah tiada lain dari Manajer Grapari Bontang, Ibu Sri Hartati.
Sebelum bertemu dengan beliau, saya dapat bocoran informasi bahwa beliau adalah salah seorang penggemar musik. Dan ternyata benar, begitu saya memasuki ruangannya, terdengar musik yang bersumber dari speaker di meja kerjanya. Itu sebabnya barangkali yang membuat dia tampak selalu ceria.
Ketika saya sampaikan bocoran informasi tadi, beliau juga ternyata mempunyai bocoran informasi tentang saya. Dia tahu tentang tulisan-tulisan saya di blog saya, dia juga bahkan tahu bahwa saya aktif di komunitas TDA. Ah… skornya jadi 1-1.


Sudah menjadi kebiasaan saya untuk menawarkan pada tuan rumah yang saya kunjungi untuk berbagai pengetahuan pada para karyawannya, begitupun pada bu Tati, saya menawarkan untuk membuat kelas dadakan bagi para karyawan Grapari Bontang. Ternyata beliau menyambut dengan antusias. Maka diputuskan untuk melaksanakannya pukul 17.00 hari itu juga (padahal waktu itu sudah pukul 13.30). Dan luar biasa... ketika saya kembali ke situ pukul 16.45, hampir semua karyawan Grapari Bontang sudah berkumpul di ruang pertemuan (hanya mereka yang bertugas ke luar kota saja yang tidak dapat hadir). Saking penuhnya, karena ruangannya tidak mencukupi, akhirnya sebagian di antara mereka duduk lesehan di lantai, dan mereka bertahan sampai akhir acara kurang lebih pukul 19.30.


Srikandi Telkomsel yang lain adalah mbak Mutiara Sari, ia adalah Supervisor Sales Grapari Bontang. Saya menyaksikan sendiri keluarbiasaannya dimana dengan sigapnya dia memimpin pasukannya dalam menyelenggarakan kelas di dua tempat yang terletak cukup jauh dari Bontang, yaitu Sangatta dan Kongbeng. Dia langsung turun tangan mulai dari persiapan tempat, mengecek undangan, menyiapkan perlengkapan sampai memberikan materi pelatihan di kelas.

Saya sungguh beruntung bertemu dan berkenalan dengan mereka...











Minggu, 18 November 2007

Hari ini, kami bersama rombongan Grapari Telkomsel Samarinda (langsung dipimpin oleh Manajernya Bpk. Andi Agustian), berangkat menuju sebuah daerah bernama Melak, sebuah daerah yang berada di sekitar Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat.
Kami berangkat meninggalkan Samarinda pukul 11.15.
Keluar dari Kota Samarinda, kami memasuki wilayah Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar), Untuk memasuki ibukota Kukar, yaitu Tenggarong, kami menyebrangi jembatan yang sangat panjang dan indah. Ketika melewati jembatan ini, kita dapat melihat pulau Kumala yang ada di tengah sungai Mahakam, yang oleh Pemda Kukar dijadikan objek wisata, lengkap dengan kereta gantungnya.

Setelah kurang lebih 6 jam melewati perjalanan melalui jalan yang sempit, berkelok-kelok dan naik turun (bahkan ada bagian jalan yang rusak parah), kami pun tiba di Melak pukul 17.30.
Kamipun bisa istirahat sambil mempersiapkan pelatihan yang akan diadakan besok.



Selasa 20 November 2007

Karena kemarin perjalanan darat Samarinda – Melak memakan korban, yaitu sebagian anggota rombongan mengalami mabuk perjalanan, maka pihak Grapari memutuskan untuk membagi rombongan menjadi dua pada perjalan pulang menuju Samarinda. Sebagian akan melalui perjalanan darat kembali dan sebagian lagi akan melalui perjalanan sungai. Ketika saya ditawari untuk memilih, dengan senang hati saya segera memutuskan untuk ikut rombongan perjalanan sungai, karena seumur hidup saya belum pernah mengalami perjalanan melalui sungai.
Kami mengawali perjalanan dari sebuah dermaga kecil di tepi sungai, kami berangkat pukul 07.05, kendaraan kami berupa sebuah perahu motor (speed boat) dengan daya tampung sebanyak 10 orang.
Seperti yang saya bayangkan, perjalanan melalui sungai ini sangat mengasyikkan, selain jalannya lurus (sedikit sekali kelokan sungai dan tentu saja tidak ada tanjakan dan turunan), di sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan, misalnya perkampungan di tepi sungai, kami melihat seorang ibu-ibu mendayung sebuah sampan kecil sambil tetap menggendong anaknya. Ada juga anak-anak berseragam SD mendayung sampan untuk menuju sekolah yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya (saya jadi ingat pada anak saya yang tiap hari diantar jemput pake mobil jemputan, ahh.. sungguh berbeda jauh...). Di setiap pemukiman tepi sungai yang cukup besar, juga ada warung-warung terapung yang pembelinya adalah para pengendara kendaraan sungai yang lewat, bahkan ada juga pom bensin yang menjual solar untuk kebutuhan motor penggerak perahu. Kami juga sempat singgah di sebuah WC terapung yang cukup banyak terdapat di pemukiman tepi sungai, karena salah seorang penumpang boat kami tidak tahan untuk buang air kecil. Nah saat kami singgah di WC itulah kami mendapat keberuntungan, karena tidak jauh dari WC itu ada seorang perempuan cantik yang sedang mandi di ”kamar mandi” (terbuka tentu saja...!). Hebatnya lagi... dia sama sekali tidak merasa canggung ditonton oleh kami, meskipun tubuhnya hanya ditutupi selembar kain... Sayapun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengabadikan adegan tersebut dengan handycam, tapi anehnya, saya malah merasa canggung untuk meliputnya... (itulah risikonya ngintip...)












Perjalanan terasa lebih menyenangkan karena kami didampingi oleh seorang guide amatir yang cantik, yaitu mbak Mus dari Grapari Samarinda. Meskipun dia bukan berasal dari daerah sepanjang sungai tersebut, dia paham betul tentang berbagai hal yang berhubungan dengan keadaan di sepanjang sungai itu. Kehadiran mbak Mus sangat terasa dalam perjalanan ini bukan hanya karena berbagai penjelasannya, tapi juga karena beliau selalu menyiapkan mini bar di setiap perjalan kami, mulai dari air minum dalam kemasan, susu kemasan, kacang, wafer, roti, keripik kentang, keripik singkong dan tentu saja permen. Itu sebabnya dia dipanggil bunda oleh para TPR di Grapari.


Setelah kurang lebih tiga jam kami melewati perjalanan sungai itu, kamipun berlabuh di sebuah ibukota Kecamatan, Kota Bangun namanya. Dari sini kami melanjutkan perjalanan melalui Darat menuju Samarinda...
Lengkaplah sudah perjalanan itu...



Minggu, 11 Nov 2007

Hari ini saya mengawali perjalanan di wilayah Kalimantan Timur. Tiba di Bandara Sepinggan Balikpapan pukul 12.30 WITA. Tidak sempat istirahat, kami (saya dan asisten) langsung dijemput teman-teman penyelenggara dengan sebuah minibus untuk langsung menuju daerah lokasi kelas pertama, yaitu Kabupaten Pasir, sebuah Kabupaten di Kaltim bagian Selatan dengan ibukotanya bernama Tanah Grogot, atau lebih mudah disebut Grogot.
Untuk menuju ke Grogot, kami harus melewati sebuah teluk kecil dengan menggunakan sebuah ferry. Saya menikmati benar perjalanan di atas air ini, bukan hanya karena airnya yang tenang tanpa gelombang, tapi juga bisa menikmati pemandangan Balikpapan dari laut. Tanpa dari jauh tangki-tangki raksasa lengkap dengan cerobong apinya milik Pertamina. Di tengah perjalanan kami juga melewati sebuah tongkang besar yang berisi gundukan2 tanah, tadinya saya pikir itu adalah gundukan pasir, ternyata gundukan itu adalah batu bara hasil olahan.


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan ferry tersebut, kami mendarat di daerah yang bernama Penajam Pasir Utara (PPU) lebih dikenal dengan Penajam. Dari sini perjalanan darat di mulai menuju Grogot. Sepanjang perjalanan saya dibuat terkesan dengan jalannya yang relatif lurus dan rata, sedikit sekali tikungan dan tanjakan/turunan. Karena jumlah kendaraan yang melewati jalan ini relatif sedikit, maka pengemudi mobil kamipun mengendarainya dengan kecepatan di atas 80 km/jam, serasa berjalan di tol, hanya saja dua arah, sehingga kadang-kadang rada ngeri juga bila sedang berselisihan dengan kendaraan dari arah berlawanan yang sama-sama berkecepatan tinggi.
Dibutuhkan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan dari Penajam untuk sampai Grogot. Kami tiba di Grogot pas Magrib, kami menginap di hotel Bumi Pasir.
Malamnya, kami mencari makan malam di kawasan rumah makan sepanjang pinggir sungai Kandelo.
Kota Grogot terhitung kecil dan sepi (setidaknya pada pukul 19 WITA). Di tengah kota ada sebuah mal (Kandelo Plaza), sebuah bangunan dua lantai dengan kios-kios kecil (bukan supermarket). Yang menarik adalah, meski kota ini kecil tapi memiliki sebuah Masjid Raya yang sangat besar dan megah.

Senin, 12 Nov 2007.

Setelah menyelesaikan materi di kelas pukul 16.30. Kamipun balik ke hotel dan langsung chek out. Kurang lebih pukul 17.10 kami berangkat menuju Balikpapan. Berbeda dengan perjalanan kemarin, malam ini perjalanan memberikan sensasi tersendiri, karena kami menembus kegelapan, cahaya hanya berasal dari lampu mobil, sementara di kiri dan kanan gelap dan pekat (serasa di film horor…). Karena fisik dalam keadaan lelah (maklum seharian berdiri di kelas), setengah perjalanan saya lalui dengan tertidur, sehingga tidak terasa selama seperti berangkatnya kemarin.
Ketika menyebrangi teluk, kami disuguhi pemandangan Balikpapan di waktu malam yang cukup indah.

PENDIDIKAN DAN KETERAMPILAN

Ketika acara Kick Andy di Metro TV membahas tentang buku Laskar Pelangi, hadir sebagai salah satu nara sumber adalah Gede Prama. Ada pernyataan Gede Prama yang menarik untuk disimak pada kesempatan itu. Dia mengungkapkan bahwa ketika beliau di SMA, sempat mebaca sebuah tulisan yang menyatakan bahwa; yang akan menyelamatkan hidup bukanlah pendidikan, melainkan keterampilan... Itu sebabnya beliau menekuni secara terus menerus keterampilan menulis dari sejak SMA sampai sekarang.
Pernyataan tersebut, menyadarkan saya pada jawaban permasalahan mengapa banyak orang yang pintar secara akademik (melalui pendidikan) tidak berhasil dalam kehidupannya, sebaliknya, banyak orang yang tidak berpendidikan secara memadai, namun berhasil dalam kehidupannya. Karena ternyata kehidupan lebih memberi tempat pada orang yang mempunyai keterampilan dibanding dengan orang yang berpendidikan.
Pada tahun 70-an ke belakang, orang-orang yang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi, mempunyai tempat terhormat di masyarakat, sehingga berimplikasi pada keberhasilan tarap kehidupannya, hal itu terjadi karena hanya sedikit anggota masyarakat yang mampu melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Sementara sekarang, lulusan perguruan tinggi begitu berlimpah. Persaingan terjadi bukan hanya antara alumni perguruan tinggi swasta dengan alumni perguruan tinggi negeri, tapi juga bersaing dengan alumni perguruan tinggi dari luar negeri.
Melihat keadaan seperti ini, maka pernyataan di atas sangatlah berkorelasi positif, di mana pendidikan bukanlah jaminan bagi keberhasilan kehidupan seseorang. Yang bisa mengantar keberhasilan seseorang lebih didasarkan pada potensi individualnya, yaitu keterampilan yang dikuasainya.
Mari kita telusuri lebih jauh. Pendidikan adalah sebuah proses memberi asupan berbagai pengetahuan pada kandungan intelektual kita melalui kegiatan yang disebut belajar. Sementara keterampilan adalah sebuah hasil dari proses memberi asupan pada tindakan kita melalui kegiatan yang disebut berlatih.
Permasalahannya, sebanyak apapun pengetahuan kita dan setinggi apapun pendidikan kita, tidak akan berarti banyak manakala kita tidak bertindak. Sementara itu, betapapun sederhananya sebuah keterampilan yang kita lakukan, langsung terlihat hasilnya (karena hasil dari tindakan), dan semakin sering kita melakukan keterampilan tersebut, maka kita semakin terampil.
Itu sebabnya dalam buku-buku motivasi selalu ditekankan bahwa pendidikan bukanlah sumber daya, tetapi baru sebatas potensi sumber daya. Pendidikan akan menjadi sumber daya bagi seseorang manakala menjadi dasar bagi tindakannya. Pendidikan bahkan menjadi beban tersendiri bagi sebagian orang. Lihatlah betapa banyak sarjana yang bertahun-tahun jadi penganggur hanya karena memilih-milih pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya.
Simpulnya adalah; mari kita tak henti-hentinya melatih keterampilan kita, apapaun latar belakang dan tingkat pendidikan kita. Bisa jadi kita sebenarnya mempunyai keterampilan yang menjadi hobi kita di bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan latar belakang pendidikan kita. Mari kita kembangkan, karena bisa jadi suatu waktu kehidupan kita berhasil karena keterampilan tersebut.

Saya merasa yakin pada hal ini. Karena saya sudah membuktikannya...
Saya telah diselamatkan oleh ketrampilan yang saya kuasai... dan keterampilan saya sama sekali tidak berhubungan dengan latar belakang pendidikan saya...
Selamat berlatih...


PS: Berita baiknya, sebenarnya semua orang mempunyai talenta di bidang keterampilan tertentu, sebagai salah satu anugerah Allah yang telah diberikan pada setiap orang. Hanya saja hanya sedikit orang yang menyadarinya. Ada dua cara praktis menemukan talenta itu; pertama, cari dengan mencoba-coba, dan yang kedua, tunggu sampai kepepet...


LASKAR PELANGI


Sudah cukup lama saya tidak membaca buku-buku fiksi sejenis novel, padahal dulu saya penggemar berat pada jenis bacaan tersebut. Mungkin karena akhir-akhir ini perhatian saya lebih terfokus pada buku-buku berjenis motivasi dan pengembangan diri, maka minat terhadap bacaan fiksi jadi menurun. Belakangan baru tergoda lagi oleh Da Vinci Code dari Dan Brown yang cukup menghebohkan itu, kemudian terusik lagi oleh Ayat-ayat Cinta nya Habbiburahman. Dan beberapa waktu yang lalu, tergoda oleh beberapa milis yang membahas tentang Laskar Pelangi (LP) karya Andrea Hirata, saya mulai tergoda lagi untuk berfantasi ria. Dan ternyata heebboohhh banggeeet...
Seperti yang dialami oleh pembaca-pembaca lain, sepanjang membaca buku itu (yang benar-benar susah untuk dihentikan), emosi saya teraduk-aduk, antara keharuan dan kekonyolan isi buku tersebut.
Setelah menyelesaikan membaca buku itu, kesan saya cuma satu: SALUT pada Andrea sang penulis yang mempunyai keajaiban dalam menggambarkan detail setiap peristiwa yang dialami oleh dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Seperti beberapa pembaca lainyang baru menemukan buku itu belakangan ini, sayapun merasa terlambat menemukan buku itu, karena buku itu sudah diterbitkan sejak akhir 2005...!; kemana saja saya selama ini..?. Tapi ada untungnya juga, karena begitu menyelesaikan buku tersebut, saya bisa langsung membaca buku-buku lanjutannya; Sang pemimpi dan Endensor tanpa harus berlama-lama menunggunya. Meski demikian, ternyata saya sempet juga dibikin ketar ketir oleh buku LP itu. Ceritanya begini:
Setelah merasakan kedasyatan buku itu, saya langsung ingat pada anak saya yang juga hobi membaca dan sekarang tinggal di asrama. Maka saya niatkan untuk memberikan buku itu pada anak saya tersebut. Tapi belum sempet niat itu terlaksana, saya bertemu dengan seorang teman baik yang berprofesi sebagai guru dan pengasuh pesantren, dan sayapun tidak tahan untuk memberikan buku itu padanya, dengan asumsi toh nanti saya bisa membeli lagi untuk anak saya. Singkat cerita, Ketika saya menjemput anak saya untuk pulang dari asrama karena libur lebaran, sepanjang jalan saya menceritakan sekilas tentang kehebatan buku LP itu. Anak sayapun menjadi penasaran untuk segera membacanya. Akhirnya, sebelum kami sampai ke rumah, kami sempatkan untuk singgah dulu di Gramedia Serpong Mall. Tapi ternyata buku LP sudah tidak tersedia alias habis..! Padahal lima hari yang lalu, ketika saya membelinya, saya lihat masih cukup banyak. Supaya anak saya tidak kecewa, sayapun menghubungi petugas Gramedia untuk meminta info tentang no telepon yang bisa dihubungi dari Gramedia yang ada di sekitar itu, yaitu yang di Lippo Karawaci dan WTC Serpong. Petugas itu bahkan memberi no telepon semua Gramedia yang ada di Jabodetabek, Sayapun segera menghubungi kedua toko Gramedia terdekat, tapi ternyata di kedua toko itupun sudah tidak ada persediaan buku LP. Demikian juga ketika saya menghubungi Gramedia lain, yaitu Gramedia Daan Mogot Mall dan Gramedia Puri Mall. Saya agak panik dan anak sayapun kecewa, sementara satu-satunya LP yang saya miliki sudah terlanjur saya berika pada kawan saya. Karena hari sudah sore, maka pencarianpun dihentikan dengan menyisakan kepenasaranan: bagaimana sebuah buku bisa habis di lima toko Gramedia dalam waktu yang bersamaan?. Apakah karena tidak laku sehingga toko tidak menyiapkan persediaan lagi, atau justru sangat laku??.
Besoknya, begitu waktu menunjukkan pukul 10 (diperkirakan waktunya buka toko), saya segera menghubungi Gramedia lain, yaitu yang di Taman Anggrek, dan Alhamdulillah petugasnya menginformasikan bahwa masih ada sisa persediaan buku LP sebanyak dua buah..!!. Sayapun segera memesan dua-duanya. Tanpa menunggu sayapun segera meluncur ke Taman Anggrek. Sesampai di Gramedia Taman Anggrek, petugas yang melayani saya menginformasikan bahwa kebetulan pagi itu mereka baru dikirimi persediaan buku LP dari distributornya. Ketika saya buka keterangan cetakannya, ternyata buku LP yang saya beli itu adalah terbitan cetakan terbaru, yaitu cetakan kesembilan, dan saya melihat beberapa petugas toko itu masih mengatur tumpukan buku-buku LP di rak display buku Best Seller. Ketika saya mendekati rak tersebut, dua orang petugas toko yang terlihat lebih rapi (mungkin setingkat pengawas) sedang mengawasi pekerjaan anak buahnya sambil bercakap-cakap, karena jarak mereka begitu dekat dengan tempat berdiri saya, sayapun sekilas mendekar percakapan mereka.
“Pasti penerbit buku ini tidak menyangka bahwa buku ini akan menjadi best seller” kata petugas yang satu, yang segera dijawab oleh petugas yang satunya lagi; “iya... buku ini seperti kacang goreng saja...”.
Mendengar percakapan mereka, sayapun tersenyum miris, karena menyadari bahwa sayapun terkena korban pemburuan buku LP itu.

Akhirnya...
Pulang mudikpun menjadi asyik... Karena sepanjang jalan kami (saya dan anak saya) tidak hentinya-hentinya membicarakan kekonyolan si Ikal, Mahar, A Kiong, Trapani, Kucai, Syahdan, Harun, Samson, Sahara dan tentu saja kejeniusan Lintang, para pendekar Laskar Pelangi.




Hari Minggu kemarin, saya asyik berkutat dengan e-book yang berjudul Mindset Sukses, Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial karya Jennie S. Bev.
Di mata saya, karya tersebut cukup istimewa, selain karena kandungan materinya yang segar, juga terdapat langkah-langkah aplikatif untuk dijalankan.
Tema besar tulisan itu adalah keyakinan Jennie bahwa sebenarnya kesuksesan itu melekat pada diri seseorang sejak dia dilahirkan di dunia ini, tidak perlu dicari dan tidak perlu syarat untuk mendapatkannya. Hanya saja sebagian besar di antara kita tidak menyadarinya sehingga tidak mengeluarkan atau mengotimalkannya.
Salah satu cara untuk mengeluarkan kesuksesan di dalam diri itu adalah melalui proses memberi. Jennie berpendapat bahwa hanya ada dua kelas di dalam masyarakat, yaitu Pemberi dan Penerima, dan sebagian besar masyarakat kita lebih senang termasuk pada kelas penerima, padahal menurut dia, Pemberi lah sebenarnya yang memegang kelas sosial dan ekonomi tertinggi, karena proses memberi merupakan proses konfirmasi kelimpahan di dalam alam semesta, itu sebabnya merupakan suatu kehormatan yang luar biasa besarnya untuk bisa masuk kelas Pemberi daripada Penerima.
Berita baiknya, Anda tidak perlu kaya secara finansial untuk bisa memberi. Anda tidak selalu harus memberi uang kepada orang lain, tapi Anda juga bisa memberi hal lain, misalnya keterampilan yang selama ini Anda kuasai, atau waktu senggang yang Anda miliki.
Karena hal inilah maka Jennie membagikan e-book tentang Mindset Sukses itu secara gratis pada siapapun. Sebelumnya, dia bahkan menerbitkan buku dimana semua hasil keuntungan dari penerbitan tersebut, dibagikan pada anak-anak miskin atau tidak mampu.
Masih banyak langkah-langkah yang ditunjukkan Jennie untuk mengeluarkan kesuksesan dari dalam diri. Anda bisa mengaksesnya langsung di situs Jennie.

Salah satu hal yang langsung menginspirasi saya dari buku ini adalah tentang kekuatan senyum. Senyuman adalah suatu hal yang dapat kita berikan pada setiap orang dengan mudah, tapi tidak semua orang mampu melakukannya.
Lalu saya perhatikan, semua foto Jennie yang tersebar di buku itu memperlihatkan senyumannya. Karena itulah maka sayapun segera mengganti foto pada profil saya di blog ini dengan foto yang bersenyum…

Sebuah media pembuka kesuksesan telah tersibak, tunggu apalagi? Segera akses Jennie…




FACTOR KEBERUNTUNGAN

Ternyata…
Orang-orang beruntung itu memiliki sifat bawaan yang mempengaruhi pola pikir dan pola tindaknya sehari-hari.
Bawaan itu mereka dapatkan dari orang-orang di sekitarnya sejak kecil,
Sehingga membuat hidupnya cenderung selalu beruntung…

Sementara…
Orang-orang tidak beruntung, juga memiliki sifat bawaan sejak kecil yang mempengaruhi pola pikir dan pola tindaknya sehari-hari yang membuat hidupnya cenderung selalu sial…

Berita baiknya…
Sekarang telah ditemukan
Faktor-faktor
KEBERUNTUNGAN
(LUCK FACTOR)
Yang bisa dipelajari dan bisa menjadikan Anda (apapun latar belakang Anda, jenis & tingkat pendidikan Anda dan status ekonomi Anda) menjadi orang yang selalu beruntung seumur hidup Anda...

Adalah Richard Wiseman, seorang Doktor Psikologi yang mengadakan riset di Inggris atas ribuan orang-orang yang merasa selalu beruntung dan selalu sial sepanjang hidupnya. Dari hasil riset itu, diketahui ada beberapa prinsip yang dimiliki oleh orang-orang beruntung yang tidak dimiliki oleh orang-orang sial. Berikut ini adalah prinsip-prinsip keberuntungan tersebut:

PRINSIP PERTAMA:
MEMAKSIMALKAN PELUANG KEBETULAN

Prinsip pertama ini berdasar pada prinsip:
Orang-orang beruntung menciptakan, menyadari, dan bertindak sesuai peluang kebetulan dalam hidup mereka

Orang-orang beruntung pada umumnya sering meyakini bahwa peluang-peluang yang mereka dapatkan adalah hasil kebetulan belaka.
Sebenarnya, peluang yang tampak kebetulan itu adalah akibat kondisi psikologis mereka, dimana cara berpikir dan bertindak mereka menjadikan mereka jauh lebih mungkin menciptakan, menyadari dan bertindak sesuai peluang kebetulan dalam hidup mereka ketimbang orang lain.
Cara berpikir dan bertindak itulah yang mempengaruhi kepribadian mereka.
Hasil Riset, ditemukan ada tiga dimensi dasar kepribadian manusia yang dimiliki oleh orang-orang beruntung, yaitu:
• Kecenderungan Ekstrovert
• Kecenderungan Neurotik
• Keterbukaan
Ketiga dimensi dasar kepribadian inilah yang mempengaruhi orang-orang beruntung mampu meningkatkan dan mengoptimalkan peluang kebetulan dalam hidup mereka.
Mari kita bahas secara mendetail sifat-sifat orang beruntung dengan menghubungkan ketiga dimensi dasar kepribadian tadi:

1. Orang-orang beruntung cenderung selalu membangun dan mempertahankan jaringan keberuntungan yang kuat
Orang-orang beruntung biasanya bersifat ekstrovert, dimana mereka jauh lebih mudah bergaul ketimbang orang-orang introvert, mereka biasanya senang menghabiskan waktu dengan mengunjungi teman-teman dan pergi ke pesta atau acara-acara keramaian, dan cenderung tertarik pada pekerjaan yang melibatkan bekerja dengan orang lain. Sementara orang-orang introvert jauh lebih penyendiri. Mereka senang menghabiskan waktu sendiri, dan merasa paling puas kalau terlibat dalam lebih banyak aktivitas sendiri, misalnya membaca di rumah.
Ada tiga cara dimana orang-orang ekstrovert secara signifikan meningkatkan kemungkinan keberuntungan mereka:

  • Bertemu sejumlah besar orang dalam kehidupan mereka sehari-hari
  • Menjadi magnet sosial, dimana mereka sepertinya bisa menarik orang lain kepada mereka. Hal ini karena mereka tanpa sadar menunjukkan tipe bahasa tubuh yang selalu terbuka dan ekspresi wajah yang menyenangkan (tersenyum)
  • Mempertahankan hubungan dengan banyak orang

2. Orang-orang beruntung memiliki sikap rileks terhadap kehidupan
Hal ini memang tidak terlalu berhubungan dengan menciptakan peluang kebetulan, tetapi sebaliknya meningkatkan kemampuan orang-orang beruntung untuk menyadari dan bertindak sesuai peluang yang muncul secara alami. Mengapa? Karena secara umum, kita cenderung menyadari hal-hal yang penting bagi kita saja. Kita cenderung mengalihkan perhatian kita kepada apapun yang tampak penting bagi kita dan seringkali mengabaikan aspek lain lingkungan sekitar kita.
Nah, Orang-orang yang beruntung, cenderung lebih tenang dan rileks sehingga mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menyadari peluang kebetulan, bahkan saat mereka tidak menyadarinya.
Kemampuan orang-orang beruntung untuk menyadari kesempatan tersebut adalah hasil dari cara pandang mereka yang rileks terhadap dunia. Bukan berarti mereka berharap menemukan kesempatan tertentu, tetapi mereka menyadarinya kalau kesempatan datang di depan mereka.

3. Orang-orang beruntung bersikap terbuka terhadap pengalaman baru dalam hidup mereka
Orang-orang beruntung cenderung memiliki banyak keberagaman dan kesenangan baru dalam hidup, mereka sangat senang mencoba pengalaman baru, jenis makanan baru, cara baru melakukan segalanya, mereka cenderung tidak terikat adat dan mereka menyukai gagasan hal-hal yang tak terduga. Mereka mampu melepaskan diri dari jebakan rutinitas yang monoton.

APA

Ketika kesadaran setengah hilang
Tak jelas mana erangan jiwa atau raga
Tangan bergetar
Mata menatap nanar
Jiwa berontak bangkit
Sementara raga terkulai tak berdaya
Semua mata menatap iba
Tapi tak faham apa yang diminta

Duhai Allah penguasa jiwa
Kau nampakkan keMahaanMu
Kami tak kuasa menolak kehendakMu
Betapa ingin kurengkuh segala kesakitan itu
Betapa ingin kurebut segala penderitaan itu
Agar ia terbebas dari erangan dan kesakitan

Duhai Allah penguasa raga
Engkau Maha tahu atas segala yang kau timpakan padanya
Jadikan segala deritanya sebagai pembersih segala kekeliruannya
Jadikan segala sakitnya sebagai pencuci segala kotorannya
Jadikan semuanya sebagai pendekat jarak ia denganMu

Bogor, 27 Desember 2007

Itulah catatan terakhir saya menyaksikan kesakitan dan penderitaan Ayah saya
Dalam ketidakberdayaan kami sekeluarga untuk membantu menghilangkan segala kesakitannya, kami hanya bisa menatap iba seraya pasrah kepada Allah...

Setelah lebih dari setahun ia dicekam oleh rasa sakit pada jantungnya,
Akhirnya... Minggu, 25 Februari 2007, pukul 02.55 dini hari, ia dijemputNya...

Semoga...
Allah mengampuni segala kealfaannya...
Allah menerima segala amal baiknya...
Allah menempatkannya di tempat yang mulia...
Amiin...

Dikehendaki atau tidak… Januari 2007 M. dan Muharram 1428 H. telah kita jelang.
Moment ini tak akan ada bedanya dengan hari-hari yang lain, selama kita tidak memberinya makna yang berbeda.
Lalu apa yang dapat kita lakukan agar moment ini memberi kontribusi bagi kehidupan kita?
Belajar dari Brain Tracy, kita bisa jadikan moment ini sebagai pijakan awal bagi kehidupan kita selama setahun ke depan. Caranya?

  • Tulislah tiga hal yang ingin Anda MILIKI pada tahun ini (motor, mobil, rumah, pendapatan 20 juta/bulan, dll… )
  • Kemudian tulislah tigal hal yang ingin Anda LAKUKAN pada tahun ini (buka toko, menulis buku, berhenti dari TDB, umroh, dll… )
  • Kemudian tulis pula tiga hal yang ingin Anda CAPAI pada tahun ini (mempunyai dua sumber penghasilan yang berbeda, menyelesaikan kuliah, membuka 5 toko cabang di Jabotabek, dll.)

Tindakan ini begitu sederhana, tapi tidak banyak orang yang melakukan, dan hebatnya, hasil yang Anda dapatkan akan luar biasa. Mengapa? Karena penentuan tujuan akan berdampak:

  • Memberi pilihan bagi pikiran, mana tindakan2 yang tidak perlu atau harus dilakukan
  • Memberi arah pada tindakan2 yang akan dilakukan
  • Meregangkan kemampuan pada batas yang tidak terbatas, sehingga mampu memperluas zona nyaman
  • Mendekatkan segala apa yang diinginkan secara mental

Setelah menuliskan keinginan2 itu, segeralah buat program kerja untuk merealisasikannya melalui rencana2 tindakan harian dan mingguan.
Ketika Anda melakukan tindakan ini, maka Anda menjadi termasuk golongan minoritas, dan kenyataan membuktikan ternyata hanya sebagian kecil orang itulah yang telah memperoleh kesuksesan dalam kehidupan ini.
Selamat Tahun Baru Saudara-saudaraku…
Hari ini, hakikatnya adalah mimpi2 kita yang kemarin, dan mimpi kita hari ini akan menjadi kenyataan di hari-hari yang akan datang.
Selamat dan Salam Sukses…!

PS: Sebagai hadiah tahun baru, saya ingin berbagi terjemahan resume buku “Secrets of Self-Made Millionaire” dari Adam Khoo. Bagi Anda yang berminat, bisa memesannya melalui email di resumebuku@yahoo.co.id . Saya hanya akan mengirimkan pesanan melalui alamat email itu, kecuali bagi yang sudah memesan terdahulu, saya akan mengirimkannya pada kesempatan pertama.

Anda Bertanggungjawab 100% atas Kehidupan Anda

Mungkin pada suatu saat, Anda merasa bahwa perjalanan hidup Anda hanya berjalan di tempat, tiada kemajuan, tiada perbaikan yang berarti. Sementara dalam diri Anda, tersimpan hasrat yang begitu besar untuk memperoleh keadaan yang lebih baik, seperti jabatan yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih besar, hubungan yang lebih akrab, komunikasi yang lebih baik.
Ketika menyadari bahwa segala yang diinginkan itu ternyata begitu sulit Anda raih, maka Anda mulai merenungi diri sendiri, sampai akhirnya Anda berkesimpulan bahwa faktor kegagalan pencapaian diri itu lebih banyak disebabkan karena kurangnya dukungan dari lingkungan Anda, bisa jadi karena pimpinan Anda yang kurang memperhatikan kinerja Anda, mungkin karena bawahan Anda yang kurang kooperatif, mungkin karena sistem di tempat kerja Anda yang tidak jelas, atau mungkin karena sistem perekonomian dan politik negara yang Anda nilai kurang kondusif.
Ketika Anda menganggap bahwa segala yang Anda alami adalah akibat dari orang-orang yang yang ada di sekitar Anda atau karena situasi yang terjadi di sekeliling Anda, maka Anda tanpa sadar telah menjadikan diri Anda sendiri sebagai korban. Anda korban dari orang-orang dan situasi di lingkungan Anda.
Sesungguhnya, hanya ada satu orang yang bertanggungjawab atas mutu kehidupan yang Anda jalani, yaitu Anda sendiri. Untuk mencapai kesuksesan besar dalam kehidupan Anda, maka tidak bisa tidak, Anda harus mengawali dengan mengambil 100% tanggungjawab atas diri Anda. Anda tidak lagi tergantung pada sikap atau perilaku orang-orang di sekitar Anda, Anda tidak lagi tergantung pada sistem atau situasi yang terjadi di sekeliling Anda.
Itu berarti bahwa Anda harus mulai berhenti berdalih, berhenti mengeluh menjadi korban, berhenti menggunakan semua alasan dan berhenti menyalahkan keadaan di luar diri Anda.
Anda harus mulai menyadari dan bersikap bahwa Anda selalu punya kekuatan untuk membuat kondisinya berubah, untuk melakukan sikap dengan benar, untuk membuat hasil yang diinginkan.
Berkenaan dengan hal tersebut, ada sebuah rumusan kehidupan;
Peristiwa (P) + Respon (R) = Hasil (H)

Jika Anda tidak menyukai hasil (H) yang diperoleh, Anda tidak usah menyalahkan peristiwanya (P) atas hasil (H) yang tidak memuaskan, tapi sebaiknya Anda bisa merubah respon (R) Anda atas peristiwanya (P) sampai Anda mendapat hasil yang Anda inginkan.
Dalam kehidupan Anda, Anda mempunyai kemampuan untuk mengendalikan tiga hal pokok: pikiran Anda, bayangan yang Anda visualisasikan dan tindakan yang Anda ambil (perilaku). Ketika Anda menghadapi sebuah peristiwa, Anda sendirilah yang menentukan (positif atau negatif) dari apa yang Anda pikirkan, apa yang Anda bayangkan, serta apa tindakan apa yang Anda lakukan sebagai respon atas peristiwa tersebut. Sekali lagi; semua itu bisa positif atau negatif!

Berhentilah mengeluh…!
Ketika Anda mengeluhkan sesuatu atau seseorang, sebenarnya Anda merasa yakin bahwa di luar sana ada hal yang lebih baik, tapi Anda tidak bersedia bertanggungjawab untuk menciptakannya. Jika Anda tidak yakin bahwa ada sesuatu yang lebih baik yang bisa Anda peroleh, maka Anda takkan bisa mengeluh.
Biasanya, keadaan yang Anda keluhkan, dilihat dari sifatnya, adalah keadaan yang bisa Anda ubah, tapi Anda telah memilih untuk tidak melakukannya. Mengapa? Karena Anda takut beresiko, takut tidak nyaman, sulit atau membingungkan. Karenanya Anda bertahan dan akhirnya mengeluh.
Ketika Anda menghadapi sebuah keadaan yang membuat Anda tidak nyaman, Hanya ada dua pilihan bagi Anda: menerima kenyataan bahwa Anda memilih untuk tetap berada di tempat Anda sekarang, bertangungjawab atas pilihan Anda, dan berhenti mengeluh, atau... Anda mengambil risiko untuk menciptakan kehidupan yang Anda inginkan.
Celakanya, sebgaian besar di antara kita hampir selalu mengeluh kepada orang yang salah, kepada orang yang tak dapat melakukan apa-apa tentang keluhan mereka. Mengapa? Karena hal itu lebih mudah!, risiko melakukan hal itu lebih kecil. Belajarlah berhenti mengeluh dan menggantinya dengan melakukan sebuah tindakan yang akan mencapai hasil yang Anda inginkan.
Jika Anda menemukan diri dalam sebuah situasi yang tidak Anda sukai, Anda punya dua pilihan: berusahalah memperbaikinya atau tinggalkan situasi itu.
Intinya...,
· Andalah yang menciptakan kehidupan yang Anda jalani sekarang, yang merupakan hasil dari semua pikiran dan tindakan di masa lalu Anda. Anda bertanggungjawab atas semua pikiran dan perasaan Anda sekarang. Anda bertanggungjawab atas apa yang Anda katakan dan lakukan. Anda juga ber-tanggungjawab atas apa yang ada dalam benak Anda –bahan bacaan Anda, film atau acara TV yang Anda tonton, dan orang-orang dengan siapa Anda bergaul. Setiap tindakan bisa Anda kendalikan. Untuk menjadi lebih sukses, Anda harus bertindak dengan cara-cara yang mewujudkan lebih banyak keinginan Anda.
· Tingkatkanlah frekuensi pikiran dan tindakan yang berhasil, kurangi yang tidak berhasil, dan coba perilaku baru. Bagaimana cara termudah, tercepat dan terbaik untuk mengetahui pikiran dan tindakan yang berhasil atau tidak?, lihatlah hasil yang sekarang Anda peroleh. Apakah Anda sudah merasa puas dengan perolehan Anda itu?. Apakah Anda merasa belum optimal?. Apakah Anda merasa bisa memperoleh yang lebih baik?. Itu semua Anda yang menciptakan.
· Ingatlah: jika Anda tetap melakukan apa yang selalu Anda lakukan, maka Anda akan tetap memperoleh apa yang selalu Anda peroleh.

(sumber: Jack Canfield: The Success Principles)