Wednesday, June 11, 2008

KETAKJUBAN...

Itulah kesan yang tersisa dan melekat dalam memori pikiran pasca perjalanan umrah kemarin. Meski hanya sembilan hari, tapi perjalanan tersebut sungguh membuat saya merasa memasuki sebuah dunia lain.
Sebagai seorang yang pertama kali menginjak bumi tanah suci, rasa ketakjuban itu begitu bertumpuk-tumpuk. Ketakjuban karena menyaksikan kondisi alamnya yang begitu kering dan tandus tapi tergambar kemakmuran dan kekayaan negaranya. Ketakjuban karena bertemu dan melihat begitu banyak orang dengan segala perbedaannya, warna kulit, golongan, negara, bahasa, kultur, tapi semua datang untuk satu maksud, satu tujuan. Ketakjuban karena menyaksikan dan menikmati kemegahan arsitektur bangunan masjid (baik Masjid Haram maupun Masjid Nabawi), serta keindahan interior di seluruh bagian dalam masjid-masjid itu. Ketakjuban karena melihat Jabal Tsur dan Jabal Nur, tempat-tempat yang begitu monumental karena mewarnai perjuangan awal sang Rasul. Ketakjuban ketika mendaki dan berdiri di bukit yang konon tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawwa setelah terpisah ratusan tahun, sehingga bukit itu dinakaman bukit kasih sayang (Jabal Rahmah). Ketakjuban menyaksikan kegersangan alam antara kota Makkah dan Madinah, karena terbayangkan berat dan sulitnya perjalan panjang sang Rasul dan Sahabat Abu Bakar ketika Hijrah. Ketakjuban ketika berdiri di kaki bukit Uhud, salah satu saksi bisu perjuangan berat sang Rasul membina mental para pejuangnya. Ketakjuban karena bisa berdiri di hamparan pemakam Baqee, tempat dimakamkannya keluarga serta ribuan sahabat Rasul.

Tentu saja, ketakjuban yang tak kan mampu terjelaskan adalah ketika pandangan berhadapan langsung dengan Ka’bah. Seumur hidup, sepanjang menjalankan ibadah sholat, di manapun berada, ke sanalah wajah dan raga terarahkan. Kini... sang titik fokus itu ada di hadapan mata... tak terhalang apapun. Subhanallah... (ah, tak kuasa rasanya menahan derai air mata...)
Ketika sholat terselesaikan, tapi pandangan tak bisa lepas dari titik fokus, Ka’bah yang agung.. Saat itulah, hati kecil berbisik: “Engkau beruntung... Sungguh beruntung... Seumur hidupmu wajah dan ragamu kau arahkan pada sang Ka’bah, kini kau berdiri di hadapannya... Jutaan orang begitu menginginkan peristiwa ini. Tapi belum tentu seberuntungmu..! Engkau bisa ke sini bukan semata karena hartamu..! Tapi semata-mata karena ijinNyalah... Subhanallah... Alhamdulillah...
Terima kasih Rabb... terima kasih. Jadikan aku orang yang selalu mudah menyukuri segala nikmatMu..

Saturday, March 15, 2008

PANTURA

Bulan Maret ini saya kembali melakukan perjalanan panjang untuk mengisi pelatihan secara paralel, kali ini agenda saya keliling wilayah Jawa Tengah dan Yogya.
Perjalanan di mulai tanggal 9 Maret menuju Tegal. Saya berangkat dari Gambir dengan menggunakan Kereta Api Kamandanu Jakarta-Semarang. Setelah menempuh empat jam di perjalanan, sayapun sampai di stasiun Tegal. Di sana saya dijemput oleh Mas Agus dan mbak Ajeng, EO yang akan mendampingi saya di lima kota pertama.
Ini adalah kali pertama saya menginjak bumi Tegal, meskipun kota ini terkenal di Jakarta karena warung tegal-nya, tapi di kota ini sendiri tidak saya jumpai satupun warung tegal, yang ada adalah warung makan, he..he.. Kesan pertama tentang kota ini adalah kota lintasan di jalur Pantura pulau Jawa. Kesan ini begitu terasa karena sepanjang jalur lalu lintas darat utamanya dipenuhi kendaraan-kendaraan besar (truk dan bus), bahkan pada malam harinya frekuensi lalu lintas kendaraan besar ini semakin meningkat.
Saya cuma menginap semalam di kota Tegal, esoknya, setelah kelas pelatihan berakhir, rombongan kami segera pergi lagi menuju kota kedua, Pekalongan. Sebenarnya, saya ingin sekali berkeliling di kota ini untuk melihat-lihat toko batik, karena kota ini dikenal sebagai sentra Batik, sayang hal itu tidak bisa dilakukan mengingat jadwal saya di kota inipun hanya sebentar.
Kota berikutnya yang kami kunjungi adalah Kendal, sebuah kota kecil yang karena jaraknya begitu dekat dengan Semarang membuat kota ini jadi ‘tanggung’. Misalnya, di kota ini kami kesulitan untuk mencari tempat yang memadai untuk melangsungkan kelas pelatihan.
Setelah bermalam satu malam di Kendal, kamipun menuju Semarang. Di kota ini kelas pelatihannya dilaksanakan di wilayah luar kota, yaitu di Bandungan, sebuah daerah yang terletak di dataran tinggi di Unggaran, ibukota Kabupaten Semarang. Berada di Bandungan, sedikit banyak mengingatkan saya pada daerah puncak di Bogor, sama-sama tinggi, sama-sama dingin...
Kota berikutnya yang kami tuju adalah Salatiga. Ada sesuatu yang menarik perhatian saya di perjalanan menuju Salatiga ini. Karena kami memasuki wilayah Salatiga ini menjelang malam, beberapa saat sebelum memasuki kota Salatiga, mas Agus (pendamping saya) mengajak kami untuk singgah makan malam di sebuah restauran yang bernama Swalayan. Sesuai dengan namanya, di sini kami diberi keleluasaan untuk memilih dan mengambil sendiri nasi dan lauknya sesuai dengan selera kita. Tapi yang menarik bukan karena hal itu, melainkan karena persis di tengah restauran itu, ada sebuah panggung kecil dimana di atasnya duduk tiga orang lelaki menggunakan kostum yang sama (lengkap dengan dasinya) dan mereka masing-masing memegang alat musik petik yang sederhana dan memainkan lagu-lagu KERONCONG...
Wuihhh.... asyik banget... Meskipun suara dan perlengakapan mereka begitu sederhana, tapi jarang-jarang (bahkan tidak pernah ding...) saya menyaksikan live music keroncong... Sayapun menikmati sekali makan malam tersebut. Kami bahkan tidak segera beranjak pergi meski makan malam kami sudah selesai. Kami terbuai dengan lantunan Bengawan Solo... Juwita Malam... dan lagu-lagu kenangan lain...

Wednesday, January 02, 2008


KONGBENG

Dari Sangatta, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah Kecamatan yang terletak paling Utara dari wilayah Kutai Timur, yaitu Kecamatan Kongbeng.
Ketika saya mendapat penawaran tugas di wilayah Kaltim ini, yang pertama kali saya lakukan adalah membeli peta wilayah Kalimantan Timur, lalu saya menelusuri letak kota-kota yang akan saya kunjungi. Nah di antara sembilan kota yang akan saya datangi, hanya satu yang tidak tercantum dalam peta, yaitu Kongbeng ini. Akhirnya saya telusuri melalui search engine di internet dengan menggunakan kata kunci Kongbeng. Ternyata hasilnya minim sekali, hanya keterangan yang menyatakan bahwa Kongbeng ini adalah salah satu Kecamatan yang termasuk wilayah Kutai Timur.
Ternyata Kecamatan ini adalah hasil pemekaran dari Kecamatan Muara Wahau, itu sebabnya di peta hanya ada keterangan tentang Muara Wahau.
Untuk sampai di Kecamatan Kongbeng, diperlukan perjalanan selama kurang lebih empat jam dari Sangatta. Secara umum kondisi jalan antara Sangatta – Kongbeng bisa disebut mulus, namun di beberapa tempat terjadi amblas pada sebagian atau seluruh permukaan jalan, sehingga pada titik-titik tersebut jalannya nyaris putus, sehingga harus disambung dengan jembatan-jembatan darurat. Cukup mengerikan memang... selain karena di pinggir kiri kanannya adalah jurang, juga mengingat titik-titik itu adanya di tengah hutan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya perjalanan di waktu hujan atau malam hari...
Sesampainya di Kongbeng, kami beristirahat dan menginap di sebuah penginapan yang cukup asri, dimana dindingnya seluruhnya ditutupi kayu. Meski air di kamar mandinya berwarna kekuning-kuningan, tapi fasilitas dalam kamarnya cukup lengkap dimana ada AC dan TV dengan saluran internasional (maklum menggunakan parabola). Tapi jangan kaget... semua fasilitas itu hanya bisa digunakan malam hari saja, karena mulai dari jam 7 pagi sampai jam 17 sore listriknya padam karena mengalami pergiliran aliran (keadaan ini menjadi salah satu ciri khas dari beberapa kota di Kaltim).
Meski termasuk kota kecil (hanya ibukota Kecamatan), di sini terdapat beberapa penginapan, karena di wilayah sekitarnya terdapat selain penambangan Batubara, juga terdapat banyak perkebunan kelapa sawit, sehingga setiap harinya selalu saja ada orang yang turun gunung atau naik gunung, nah penginapan ini menjadi tempat transit bagi mereka.

Hal lain yang menjadikan daerah ini istimewa adalah karena di daerah ini ada sebuah desa yang bernama Miau Baru, yaitu sebuah desa yang masih tetap memperlakukan tradisi budaya dayak dalam kehidupan keseharian mereka, seperti berladang dan mencari ikan untuk kelangsungan hidup mereka.
Ketika rombongan kami memasuki wilayah desa ini, saya dibuat takjub, karena keadaannya jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya.
Desa ini begitu asri, dimana permukimannya sangat tertata dengan baik lengkap dengan blok-blok rumah seperti pada komplek permukiman di kota-kota besar, hanya saja jalan-jalan dan gang-gang yang memisahkan rumah-rumah itu masih terbuat dari tanah dan rumahnya berbentuk panggung. Di setiap kolong rumah tersebut tersimpan kayu-kayu yang tertata dengan rapi sebagai bahan persediaan bahan bakar keluarga mereka.
Di tengah perkampungan itu, terdapat lumbung/gudang desa, juga ada sebuah bangunan panggung yang sangat besar yang disebut rumah panjang yang berfungsi sebagai tempat pertemuan atau acara-acara di antara mereka, di sekitar rumah panjang itu terdapat beberapa patung yang menggambarkan budaya mereka, sebagian malah berbentuk tiang yang menjulang tinggi.
Ciri khas dari penduduknya antara lain adalah memanjangnya ujung telinga para perempuan (terutama yang sudah tua) lengkap dengan anting-antingnya yang menyerupai gelang besar.
Hal lain yang menarik di desa ini adalah, di seberang perkampungan ini, dibatasi oleh sebuah sungai yang cukup besar, terdapat sebuah kawasan peternakan milik warga desa ini, dimana di sana berkeliaran dengan bebas banyak sekali babi-babi hutan.








Thursday, December 20, 2007

SANGATTA

Setelah singgah semalam di Bontang, perjalanan kami lanjutkan menuju kota Sangatta. Kota ini tidak terlalu jauh dari Bontang, hanya diperlukan sekitar 45 menit dari Bontang.

Sangatta adalah ibukota dari Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten ini dikenal sebagai lumbung Batubara di Kalimantan Timur, dimana di dalam tanahnya terkandung persediaan batubara sebanyak 5,35 miliar ton...!

Karena hal itu maka kehidupan (terutama sektor ekonomi) di Sangatta sangat dipengaruhi oleh keberadaan perusahaan-perusahaan pengelola batubara tersebut. Perusahaan yang paling besar adalah PT. Kaltim Prima Coal (KPC) milik keluarga Bakrie (itu sebabnya konon yang menyebabkan keluarga Bakrie menjadi orang terkaya di Indonesia).

Alhamdulillah, selama di Sangatta ini saya berkesempatan melihat langsung eksplorasi batubara pada sebuah gunung dari sebuah bukit yang namanya Bukit Pandang.

Begitu luasnya lahan eksplorasi tersebut, sehingga sejauh mata memandang yang terlihat adalah ladang eksplorasi. Kegiatan pengerukan batubara ini dilakukan selama 24 jam non stop selama bertahun-tahun, sehingga menciptakan sebuah lubang raksasa yang konon kedalamannya sudah di bawah permukaan laut.

Yang menarik lagi adalah, untuk mengangkut batubara tersebut digunakan kendaraan truck-truck raksasa, dimana diameter bannya saja bisa mencapai enam meter, sehingga kalau disandingkan dengan pickup biasa, kita seperti melihat mobil mainan saja. Hebatnya lagi, di antara para pengemudi truck raksasa tersebut adalah perempuan.

Melihat pemandangan alam yang penuh dengan kandungan batubara seperti ini, saya tidak henti-hentinya memuji karunia Allah yang telah menganugerahi bumi ini dengan bahan yang sangat bermanfaat bagi umat manusia... Subhanallahhh...

Tuesday, December 18, 2007

BONTANG

Setelah Samarinda, kota berikutnya yang saya tuju dalam perjalanan keliling Kaltim adalah Bontang. Sebuah kota kecil yang terletak 120 km di sebelah Utara Samarinda. Meski terbilang kota kecil, namun kota ini cukup dikenal, mengingat di wilayah kota ini terdapat dua perusahaan besar, yaitu Pupuk Kaltim (PKT) dan LNG Badak.
Di Bontang, saya menjadi tamu Grapari (Telkomsel) Bontang. Ada yang unik di Grapari ini, dimana di sini saya bertemu dengan Srikandi-srikandi Telkomsel, salah satunya adalah tiada lain dari Manajer Grapari Bontang, Ibu Sri Hartati.
Sebelum bertemu dengan beliau, saya dapat bocoran informasi bahwa beliau adalah salah seorang penggemar musik. Dan ternyata benar, begitu saya memasuki ruangannya, terdengar musik yang bersumber dari speaker di meja kerjanya. Itu sebabnya barangkali yang membuat dia tampak selalu ceria.
Ketika saya sampaikan bocoran informasi tadi, beliau juga ternyata mempunyai bocoran informasi tentang saya. Dia tahu tentang tulisan-tulisan saya di blog saya, dia juga bahkan tahu bahwa saya aktif di komunitas TDA. Ah… skornya jadi 1-1.


Sudah menjadi kebiasaan saya untuk menawarkan pada tuan rumah yang saya kunjungi untuk berbagai pengetahuan pada para karyawannya, begitupun pada bu Tati, saya menawarkan untuk membuat kelas dadakan bagi para karyawan Grapari Bontang. Ternyata beliau menyambut dengan antusias. Maka diputuskan untuk melaksanakannya pukul 17.00 hari itu juga (padahal waktu itu sudah pukul 13.30). Dan luar biasa... ketika saya kembali ke situ pukul 16.45, hampir semua karyawan Grapari Bontang sudah berkumpul di ruang pertemuan (hanya mereka yang bertugas ke luar kota saja yang tidak dapat hadir). Saking penuhnya, karena ruangannya tidak mencukupi, akhirnya sebagian di antara mereka duduk lesehan di lantai, dan mereka bertahan sampai akhir acara kurang lebih pukul 19.30.


Srikandi Telkomsel yang lain adalah mbak Mutiara Sari, ia adalah Supervisor Sales Grapari Bontang. Saya menyaksikan sendiri keluarbiasaannya dimana dengan sigapnya dia memimpin pasukannya dalam menyelenggarakan kelas di dua tempat yang terletak cukup jauh dari Bontang, yaitu Sangatta dan Kongbeng. Dia langsung turun tangan mulai dari persiapan tempat, mengecek undangan, menyiapkan perlengkapan sampai memberikan materi pelatihan di kelas.

Saya sungguh beruntung bertemu dan berkenalan dengan mereka...











Tuesday, November 27, 2007

Minggu, 18 November 2007

Hari ini, kami bersama rombongan Grapari Telkomsel Samarinda (langsung dipimpin oleh Manajernya Bpk. Andi Agustian), berangkat menuju sebuah daerah bernama Melak, sebuah daerah yang berada di sekitar Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat.
Kami berangkat meninggalkan Samarinda pukul 11.15.
Keluar dari Kota Samarinda, kami memasuki wilayah Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar), Untuk memasuki ibukota Kukar, yaitu Tenggarong, kami menyebrangi jembatan yang sangat panjang dan indah. Ketika melewati jembatan ini, kita dapat melihat pulau Kumala yang ada di tengah sungai Mahakam, yang oleh Pemda Kukar dijadikan objek wisata, lengkap dengan kereta gantungnya.

Setelah kurang lebih 6 jam melewati perjalanan melalui jalan yang sempit, berkelok-kelok dan naik turun (bahkan ada bagian jalan yang rusak parah), kami pun tiba di Melak pukul 17.30.
Kamipun bisa istirahat sambil mempersiapkan pelatihan yang akan diadakan besok.



Selasa 20 November 2007

Karena kemarin perjalanan darat Samarinda – Melak memakan korban, yaitu sebagian anggota rombongan mengalami mabuk perjalanan, maka pihak Grapari memutuskan untuk membagi rombongan menjadi dua pada perjalan pulang menuju Samarinda. Sebagian akan melalui perjalanan darat kembali dan sebagian lagi akan melalui perjalanan sungai. Ketika saya ditawari untuk memilih, dengan senang hati saya segera memutuskan untuk ikut rombongan perjalanan sungai, karena seumur hidup saya belum pernah mengalami perjalanan melalui sungai.
Kami mengawali perjalanan dari sebuah dermaga kecil di tepi sungai, kami berangkat pukul 07.05, kendaraan kami berupa sebuah perahu motor (speed boat) dengan daya tampung sebanyak 10 orang.
Seperti yang saya bayangkan, perjalanan melalui sungai ini sangat mengasyikkan, selain jalannya lurus (sedikit sekali kelokan sungai dan tentu saja tidak ada tanjakan dan turunan), di sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan, misalnya perkampungan di tepi sungai, kami melihat seorang ibu-ibu mendayung sebuah sampan kecil sambil tetap menggendong anaknya. Ada juga anak-anak berseragam SD mendayung sampan untuk menuju sekolah yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya (saya jadi ingat pada anak saya yang tiap hari diantar jemput pake mobil jemputan, ahh.. sungguh berbeda jauh...). Di setiap pemukiman tepi sungai yang cukup besar, juga ada warung-warung terapung yang pembelinya adalah para pengendara kendaraan sungai yang lewat, bahkan ada juga pom bensin yang menjual solar untuk kebutuhan motor penggerak perahu. Kami juga sempat singgah di sebuah WC terapung yang cukup banyak terdapat di pemukiman tepi sungai, karena salah seorang penumpang boat kami tidak tahan untuk buang air kecil. Nah saat kami singgah di WC itulah kami mendapat keberuntungan, karena tidak jauh dari WC itu ada seorang perempuan cantik yang sedang mandi di ”kamar mandi” (terbuka tentu saja...!). Hebatnya lagi... dia sama sekali tidak merasa canggung ditonton oleh kami, meskipun tubuhnya hanya ditutupi selembar kain... Sayapun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengabadikan adegan tersebut dengan handycam, tapi anehnya, saya malah merasa canggung untuk meliputnya... (itulah risikonya ngintip...)












Perjalanan terasa lebih menyenangkan karena kami didampingi oleh seorang guide amatir yang cantik, yaitu mbak Mus dari Grapari Samarinda. Meskipun dia bukan berasal dari daerah sepanjang sungai tersebut, dia paham betul tentang berbagai hal yang berhubungan dengan keadaan di sepanjang sungai itu. Kehadiran mbak Mus sangat terasa dalam perjalanan ini bukan hanya karena berbagai penjelasannya, tapi juga karena beliau selalu menyiapkan mini bar di setiap perjalan kami, mulai dari air minum dalam kemasan, susu kemasan, kacang, wafer, roti, keripik kentang, keripik singkong dan tentu saja permen. Itu sebabnya dia dipanggil bunda oleh para TPR di Grapari.


Setelah kurang lebih tiga jam kami melewati perjalanan sungai itu, kamipun berlabuh di sebuah ibukota Kecamatan, Kota Bangun namanya. Dari sini kami melanjutkan perjalanan melalui Darat menuju Samarinda...
Lengkaplah sudah perjalanan itu...

Saturday, November 17, 2007



Minggu, 11 Nov 2007

Hari ini saya mengawali perjalanan di wilayah Kalimantan Timur. Tiba di Bandara Sepinggan Balikpapan pukul 12.30 WITA. Tidak sempat istirahat, kami (saya dan asisten) langsung dijemput teman-teman penyelenggara dengan sebuah minibus untuk langsung menuju daerah lokasi kelas pertama, yaitu Kabupaten Pasir, sebuah Kabupaten di Kaltim bagian Selatan dengan ibukotanya bernama Tanah Grogot, atau lebih mudah disebut Grogot.
Untuk menuju ke Grogot, kami harus melewati sebuah teluk kecil dengan menggunakan sebuah ferry. Saya menikmati benar perjalanan di atas air ini, bukan hanya karena airnya yang tenang tanpa gelombang, tapi juga bisa menikmati pemandangan Balikpapan dari laut. Tanpa dari jauh tangki-tangki raksasa lengkap dengan cerobong apinya milik Pertamina. Di tengah perjalanan kami juga melewati sebuah tongkang besar yang berisi gundukan2 tanah, tadinya saya pikir itu adalah gundukan pasir, ternyata gundukan itu adalah batu bara hasil olahan.


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan ferry tersebut, kami mendarat di daerah yang bernama Penajam Pasir Utara (PPU) lebih dikenal dengan Penajam. Dari sini perjalanan darat di mulai menuju Grogot. Sepanjang perjalanan saya dibuat terkesan dengan jalannya yang relatif lurus dan rata, sedikit sekali tikungan dan tanjakan/turunan. Karena jumlah kendaraan yang melewati jalan ini relatif sedikit, maka pengemudi mobil kamipun mengendarainya dengan kecepatan di atas 80 km/jam, serasa berjalan di tol, hanya saja dua arah, sehingga kadang-kadang rada ngeri juga bila sedang berselisihan dengan kendaraan dari arah berlawanan yang sama-sama berkecepatan tinggi.
Dibutuhkan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan dari Penajam untuk sampai Grogot. Kami tiba di Grogot pas Magrib, kami menginap di hotel Bumi Pasir.
Malamnya, kami mencari makan malam di kawasan rumah makan sepanjang pinggir sungai Kandelo.
Kota Grogot terhitung kecil dan sepi (setidaknya pada pukul 19 WITA). Di tengah kota ada sebuah mal (Kandelo Plaza), sebuah bangunan dua lantai dengan kios-kios kecil (bukan supermarket). Yang menarik adalah, meski kota ini kecil tapi memiliki sebuah Masjid Raya yang sangat besar dan megah.

Senin, 12 Nov 2007.

Setelah menyelesaikan materi di kelas pukul 16.30. Kamipun balik ke hotel dan langsung chek out. Kurang lebih pukul 17.10 kami berangkat menuju Balikpapan. Berbeda dengan perjalanan kemarin, malam ini perjalanan memberikan sensasi tersendiri, karena kami menembus kegelapan, cahaya hanya berasal dari lampu mobil, sementara di kiri dan kanan gelap dan pekat (serasa di film horor…). Karena fisik dalam keadaan lelah (maklum seharian berdiri di kelas), setengah perjalanan saya lalui dengan tertidur, sehingga tidak terasa selama seperti berangkatnya kemarin.
Ketika menyebrangi teluk, kami disuguhi pemandangan Balikpapan di waktu malam yang cukup indah.